Travel

Solo Trip : Mahameru Summit

Awal dari cerita saya bisa sampai Gunung Semeru ini cukup bikin elus elus dada.

Di pertengahan tahun 2016 silam, saya punya doi baru. Dan…biasalah! Sepasang kekasih yang baru saja menjalin hubungan pasti mempunyai banyak hal yang ingin diwujudkan bersama-sama. Kami mewacanakan untuk liburan (bareng keluarga juga) ke Bali di akhir tahun. Waktu itu belum punya penghasilan sendiri. Jadi harus hemat. Untungnya untuk menuju ke Bali dengan budget minim di bisa menggunakan kereta api. Jakarta-Surabaya, terus lanjut Surabaya-Banyuwangi. Mirisnya, hubungan kami kandas di 3/4-an tahun 2016. Wacana ke Bali otomatis batal juga dong. Tiket udah kebeli, dan terpaksa harus direfund. Kecuali satu tiket atas nama saya denga rute Jakarta-Surbaya. Puter otak, pokoknya harus kemana gitu, dan ide gila mulai muncul. Yoi! nanjan gunung Semeru. Sendiri? Iya. Males ribet ngajakin rangorang. Waktunya juga mepet, 2 minggu lagi. Saya beli tiket tambahan rute Surabaya-Malang. Saya beli perlengkapan naik gunung, barang-barang murahan semua tapi lebih dari cukup menurut saya. Yang penting tekad ga sih? Betul, diletakin 5 cm di depan kening yang penuh noda hitam waktu itu.

Sayangnya, perlengkapan full untuk ngecamp di gunung gak semurah yang dibayangkan. Tenda contohnya. Muahal rek. Puter otak lagi, ikut open trip aja apa ya, jauh lebih simpel dan ekonomis. Cari cari open trip, dan saya lupa dapetnya dimana, saya booked untuk satu orang. Done! Mahameru udah di depan mata coyy.

Oke, langsung lanjut ke hari-H. Saya berangkat dari pasar senen naik kereta Gaya Baru Malam Selatan. Tempat duduk di sebelah saya kosong gegara doi gak refund, iya bener, seharusnya mantan doi yang duduk di samping saya. Mantap dong, dapet space yang lumayan, bisa tiduran ongkang ongkang kaki. Lanjut di Gubeng kalau gak salah pukul setengah dua dini hari. Dan kereta saya yang ke Malang berangkat pagi sekitar pukul 7. Yasudah, saya habiskan sisa malam itu dengan duduk diam di bangku jalanan kota di depan stasiun gubeng lama sambil sesekali menggambar situasi sekitar di sketchbook saya. Betul, saya juga hobi menggambar. Kadang gak habis pikir aja gitu, kok waktu itu saya berani banget. Ada gitu ya anak gadis, ditempat asing semaleman dan sendirian di kota yang baru pertama kali disinggahinya. Nekadnya saya juga penuh pertimbangan loh 🙂 sudah dengan mitigasi risiko yang maksimal.

Saya menuju Malang dengan kereta api Bima. Dekat ternyata, cuma sejam. Sesampai di sana, saya langsung menuju meeting point. Di seberang stasiun Malang. Di sana saling kenalan. Ada 2 orang guide bergender pria, dan ada 7 peserta lainnya. Peserta cewek termasuk saya totalnya ada 3 orang. Langsung lanjut ke basecamp sebelum keberangkatan. Lupa namanya desa apa. Dari situ kami naik mobil 4×4 menuju Ranu Pane. Kebetulan pada saat itu awan sangat tebal, oke fix bentar lagi bakal turun hujan. Selama di perjalanan berdiri di belakang, sungguh nikmat pemandangan Bromo Tengger Semeru. 

Sampai Ranu Pane sekitar siang menuju sore. Tim kami langsung persiapan mendaki. Satangnya, hujan mulai turun dan terpaksa pendakian diawali dengan menggunakan jas hujan. Gak nyaman sekali rasanya. Medan pendakian menuju Ranu Kumbolo cenderung mudah menurut saya. Sampai di pos terakhir sebelum Ranu Kumbolo, ada kejadian yang mengejutkan. Dua orang cewek di tim kami masuk angin, sampai muntah-muntah dan kehilangan tenaga. Medan setelah pos terakhir terlihat cukup sulit karena semakin curam dan hari sudah gelap. Tidak bisa melanjutkan perjalanan, terpaksa mereka harus digendong oleh rekan mereka, dua cowok kekar yang kuliah di jurusan olah raga. Bayangin saja, di medan yang sangat terjal dan semakin curam, mereka harus memikul masing-masing satu manusia untuk menuju camp area. 

Malam itu kami habiskan beristirahat di Ranu Kumbolo bagian satunya lagi dan di pagi harinya moving ke camp area Ranu Kumbolo yang paling mainstream. Si teteh dua duanya mendaklarasikan untuk tidak ikut muncak karena kondisi mereka yang sepertinya kurang fit. Sisa saya sendiri seorang cewek. Pagi itu juga kami melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Sempat kepikiran gimana kalau ternyata saya yang bakal jadi beban karena lemah. But nope, ada yang lebih lemah dibanding saya ternyata hehe. Gini kan enak, gak jadi yang terbelakang.

Sampai di Kalimati sore hari, kami mendirikan tenda di sana untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan summit attack puncak Mahameru dini hari nanti malam. Yang saya sebut lebih lemah dibanding saya tadi, beliau nyalinya ciut duluan, sempat terjadi adu bujukan agar beliau semangat untuk lanjut. Pada akhirnya, kami berlima, dan 2 guide, semuanya berangkat summit sekitar pukul 2 malam. Ramai sekali pada waktu itu, karena long holiday juga. Dan hari kami muncak itu merupakan hari cerah setelah beberapa sebelumnya badai terus menerpa. Di awal trek pendakian sangat ramai, sampai ke tengah semakin sedikit, dan di atas lebih sedikit lagi. Ternyata, banyak sekali yang menyerah dan memilih untuk kembali. Memang tidak sedikit kasus hipotermia yang terjadi ketika summit attack, bahkan tak lama pun ada yang meninggal dikarenakan hipotermia. Dan kalian tau apaaa? Beberapa kali saya mendengar kata ‘rock!’ ‘awas! rock!’. Persis seperti film 5cm yang lumayan dilebaykan, ternyata memang benar, batu yang menggelinding ke bawah beberapa kali terjadi, hanya saja untungnya pada waktu itu batu yang menggelincir tidak sebesar dan semengerikan seperti di film 5cm.

Tim pendakian kami terpisah menjadi 3 bagian. Saya bersama seorang guide yang sedikitpun tidak terlihat lelah. Memang ya kalau sudah pro ini. Medannya sungguh luar biasa curam. Betul, mengangkat kaki selangkah, turun setengah langkah dikarenakan pasir hitam yang sangat tebal anjlok ketika diinjak. Jadi betul betul butuh usaha, tenaga, dan kesabaran yang sangat ekstra untuk bisa menuju puncak. Belum lagi saking dinginnya, disibukkan dengan pembersihan umbel yang terus menerus keluar dari hidung.

Bersyukur sekali pendakian saya pada waktu itu berjalan dengan mulus. Keberuntungan juga mengambil andil besar. Coba saja kalau malam itu masih badai, mungkin seumur hidup saya, gak akan pernah menginjakkan kaki di Mahameru. Mahameru atau Semeru sih. Labil amat dari tadi nyebutnya. Mahameru itu sebutan untuk puncaknya gunung Semeru hehe.

Bagi saya, pendakian kali itu merupakan pendakian paling mewah di hidup saya yang waktu itu hanya anak kos yang bahkan mau beli makan di warteg saja banyak perhitungannya. Biasanya, kalau ngecamp makanannya pasti mainstream. But nope for this time, ada rendang, spaghetti, pudding, dan banyak lagi makanan sehat lainnya.  Beruntung sekali bisa berkenalan dengan teman-teman baru, khususnya Aa Deram, pendaki senior asal Bandung, kakak dari teteh teteh yang saya sebutkan tadi. Dan sosok yang selalu menjadi pemasak dalam sesi pendakian itu. Sampai sekarang pun, bersyukur sekali dengan beliau masih terjalin komunikasi yang bagus. Sudah seperti saudara rasanya. Saya sempat sekali main ke Bandung, ke rumah belliau, bertemu dengan istri beliau juga. Disambut dengan sangat hangat. Dan setiap kali ada kesempatan ke tanah Paris Van Java, saya pasti tidak akan melupakan beliau, orang yang sangat saya kagumi.

That’s the unique thing about travelling. You might find your new family. Dan akan selalu ada orang orang baik yang mengelilingimu. Semesta juga akan selalu mendukungmu jika kau berbuat baik terhadapnya, bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *